Jumat, 13 Januari 2017

Mimpi dan Harapan

Negeri yang jauh dimata. Aku bermimpi, kakiku akan kupijakkan ke negeri-negeri yang menjadi khayalanku saat ini. Hal yang membuatku sangat menginginkannya adalah sebuah cinta yang sudah ada dalam hati. Aku sudah tidak perlu lagi terbang jauh untuk mencari cinta yang sesungguhnya karena aku sudah menemukannya.
Allah meciptakan bumi ini dengan begitu indahnya. Bagaimana Dia membuat lautan yang luas, gunung-gunung yang tinggi dan bintang-bintang yang sangat banyak diangkasa? Aku meyakiniki dan mengagumi keindahan ciptaan-Mu ini. Sungguh mulianya manusia yang diciptakan oleh-Nya untuk menikmati nikmat-nikmat Tuhannya.
Aku belum mengerti bagaimana suatu kaum berbeda dengan kaum lainnya. Banyak penelitian yang sudah ada dimuka bumi ini. Aku percaya dengan menelitian itu  dan aku yakin dengan-Mu ya Rabb bahwa sesungguhnya Engkau menciptakan kami untuk menjadi saudara yang tidak boleh saling menyakiti, saling menjaga, saling belajar, dan saling berjodoh untuk meneruskan generasi kami.
Aku masih sebatas melihat dunia luar melalu internet. Hal-hal menarik sudah menantiku diluar sana. Tapi aku belum bisa pergi karena belum waktunya. Perjalanan panjang dan sangat lama tidak mungkin aku lakukan sendiri meskipun aku berani sendirian. Aku butuh bantuan orang lain karena manusia diciptakan juga untuk menolong sesamanya.
Negeri-negeri yang indah itu membuka mata dan pikiranku. Betapa indahnya mereka dengan sejuta keberagamannya. Mimpi-mimpi anak manusia yang ingin membahagiakan dirinya sendiri dengan hal-hal yang dia suka. Tapi tidak demikian dengan kenyataannya. Aku ingin berdiri dan ingin berlari. Lari secepat mungkin untuk meraih apa yang selalu aku harapkan.
Do’a-do’a yang tiada henti aku panjatkan pada-Mu, usaha-usaha yang aku lakukan meskipun kadang aku belum bisa ikhlas sepenuhnya. Manusia memang sudah mempunyai takdirnya masing-masing dan semua orang tau akan hal ini. Tapi manusia tidak tau takdirnya seperti apa. Takdir mereka mungkin akan sama dengan apa yang mereka lakukan dan usahakan.
Aku. Aku terlahir dari keluarga sederhana yang mempunyai banyak mimpi dan harapan. Sejak aku duduk di bangku sekolah, mimpi-mimpiku mulai kutulis dalam buku dan dalam ingatanku. Selalu kutulis semua harapanku. Pernah kuberkhayal betapa indahnya mimpi ini jika kulakukan dengan banyak hal dan bersama orang-orang yang aku sayangi.
Satu persatu mimpiku terwujud dan banyak juga mimpi-mimpi yang gagal. Aku menangis dalam do’aku. Terkadang aku menyalahankan-Mu tapi sebenarya ini kesalahanku sendiri. Maafkan aku yang telah menyalahkan-Mu ya Rabb. Senyum-senyum indah aku dapatkan dari kedua orang tuaku yang kadang tertawa kecil krtika aku membicarakan tentang mimpi-mimpiku.
Aku masih terlalu kecil untuk bermimpi besar. Tapi aku ingin mempunyai mimpi yang besar meskipun aku masih kecil. Menjelajahi suatu kota yang belum pernah aku jelajahi dan sendirian adalah salah satu mimpi yang sangat aku harapkan. Kota-kota kecil disekitarku sebagai awal perjalanan dari semua mimpi-mimpiku.
Menaiki kendaraan umum dan berjalan kaki adalah hal yang melelahkan. Dengan semangat, kaki kecilku terus melangkah tanpa ragu. Usia tidak pernah aku pikirkan. Aku dipandang terlalu berani untuk anak seusiaku saat itu. Tapi ini mimpi yang ingin aku wujudkan. Aku yakin mimpi-mimpiku yang lain akan terwujud dengan tekad yang kuat pula.
Teman-temanku selalu berkata jika aku tidak pantas disebut perempuan karena aku terlalu berani menyerupai laki-laki. Memang benar. Aku harus berani dengan apa yang ada didepan mataku. Berani pergi jauh dan selalu sendirian, berani melangkah lebih jauh untuk melihat dan mengabadikan ciptaan Allah yang begitu indahnya. Perempuan tidak boleh terlalu menggantungkan hidupnya dengan laki-laki.
Dengan hijab, kulakukan perjalanan ini keluar dari zona aman. Zona yang belum pernah aku tahu dan itu sangat jauh bagi kebanyakan orang. Aku mengajak hijabku pergi jauh keluar provinsi. Hijab sederhana yang menutup semua auratku. Kupejamkan mataku untuk merasakan hangatnya sunset dipantai yang indah. Nikmat Tuhan yang sangat aku syukuri.
Kulangkahkan kakiku kekota yang lebih jauh. Dimana aku harus lebih bisa menjaga diri. Kota yang sangat kejam. Penuh dengan kejahatan, kemaksiatan, fitnah-fitnah, dan lain-lain. Aku ingin pergi ke rumah-Mu Ya Allah. Rumah yang sangat indah di kota itu. Ingin kubersujud disana. Lindungi hamba-Mu yang lemah ini. Aku selalu bernaung kepada-Mu. Aku berharap mendapatkan senyum dari cinta yang selama ini aku jaga.
Dia, adalah orang yang mengerti dengan semua mimpiku. Dia, mengajarkanku untuk selalu dekat pada-Mu. Yang selalu memberi semangat dan dorongan untukku menjadi muslimah yang lebih baik lagi. Tidak ada habisnya jika manusia membahas tentang kekurangan dan masa lalunya. Dia tidak pernah menuntutku untuk menjadi seperti apa yang dia mau. Tapi dia menuntutku untuk menjadi seperti apa yang Engkau dan kekasih-Mu ajarkan.
Dia berusaha melindungiku meskipun aku tahu jarak kita sangat jauh. Jarak adalah ujian dimana aku harus bertahan jika aku benar-benar menginginkannya. Aku tahu, Allah memberikan apa yang manusia butuhkan bukan yang manusia mau. Aku yakin apa yang aku butuhkan adalah ini. Aku berjuang untuknya dan selalu ada di jalan-Mu.
Memang benar. Manusia tidak akan ada habisnya ketika dia meminta. Manusia sering meminta apa yang mereka inginkan buka yang mereka butuhkan. Aku hidup adalah untuk mengabdi pada-Mu. Aku hidup juga untuk menjalankan semua kewajibanku.
Dekatkanlah dia untukku jika dia mengarahkanku kearah yang baik. Jauhkanlan dia dariku jika dia mengarahkanku kearah yang buruk. Engkau memang yang Maha membolak-balikkan hati. Dan Engkau juga sudah menuliskan orang yang baik untukku di lauh mahfudz.
Aku berharap, dia akan menemaniku untuk menjelajahi dan belajar dinegeri-negeri yang jauh. Dikota-kota yang Engkau ridhai, ditempat-tempat yang membawaku menuju surga-Mu. Aku ingin terus berjalan semakin jauh, tapi jangan biarkan aku sendiri lagi Ya Allah.
Perjalanan ini masih dititik nol dari semua mimpiku. Titik tertinggi dalam mimpi dan harapanku adalah menuju surga-Mu.

Untumu yang jauh disana. Tetaplah bersamaku menjadi teman yang baik dan teman yang akan menemaniku menuju titi tertinggi itu, surga-Nya.

Minggu, 08 Januari 2017

Tentang Pilihan

Khimar atau jilbab biasa?
Hijab atau membungkus kepala?
Bersolek atau biasa dan menutupinya dengan niqab?
Hal yang sangat mendasar yang kadang masih menjadi hal yang sulit bagiku. Penampilan memang penting tapi ini bukan masalah modis. Aku bisa saja modis dan kekinian. Tapi aku ingat jika aku harus menghargai diriku sendiri. Menutupnya atau membagikannya kepada orang lain. Hanya itu pilihannya.
Aku masih haus akan pujian. Ini jujur. Aku mau berhijab karena dulu aku sering dibilang cantik berhujab daripada membungkus kepala. Awalnya aku hanya menggunakan jilbab biasa, rok spanatau celana jeans, kaos ketat, dan jaket jeans. Jilbab biasa aku sulap dengan jilbab paris double lalu lipatannya aku pendekkan. Jadilah jilbab besar yang sering aku pakai saat ini.
Panas? Ya. Kurang leluasa dalam bergerak? Ya. Lebih membatasi diri dan tidak bebas lagi? Ya. Aku tidak melakukannya dalam satu waktu. Ini butuh proses. Menjadi sholehah itu butuh proses yang panjang. Mengikuti sunnah nabi itu berarti siap diasingkan? Tidak bagiku. Justru teman-temanku selalu mendukungku untuk berubah lebih baik.
Bagaimana dengan orang tua? Ijinnya belum turun. Aku bingung bagaimana harus menjelaskannya. Mereka takut aku tidak bisa istiqomah. Menjadi istiqomah juga butuh proses yang panjang menurutku. Dekat dengan teman-teman tapi terasa jauh dengan orang tua. Sulit bagiku.
Aku berdo’a kepada Allah. Aku hanya meminta, berikan ijin-Mu lalu sampaikan kepada orang tuaku tentang niat baik ini. Aku ingin merubah diriku menjadi lebih baik. Aneh? Tidakkan? Aku belajar menjadi wanita yang lebih baik. Aku tidak ingin berubah menjadi wanita yang lebih buruk.
Aku berubah juga tidak dipengaruhi oleh siapapun. Tapi aku berubah karena aku melihat orang yang bisa lebih baik dari masa lalunya. Betapa cantiknya wanita itu dengan khimar dan niqabnya dia tampak sempurna.
Aku berseteru dengan diriku sendiri. Khimar atau jilbab biasa? Membungkus atau menutup rapat-rapat? Ya Allah mudahkanlah jalanku. Berikan aku pilihan yang terbaik.
Dukungan banyak orang sudah mengalir dan membanjiri akun sosial mediaku. Tinggal satu ijin lagi yang harus aku dapatkan adalah ijin dari orang tua. Ya ijin dari orang tua. Sesulit ini aku mendapatkannya. Apakah ini ujianku saat ini?

Meyakinkan orang tua tidak semudah yang aku bayangkan. Aku ingin cantik seperti bidadari syurga itu. Aku ingin sholehah. Aku ingin berubah. Apakah terlalu tinggi keinginanku ini?

Berlibur tetap berhijab. Hijab adalah identitas diri.

Assalamualaikum ukhti..
Hari ini aku akan bercerita tentang perjalananku ke Cemoro Kandang, kab. Karanganyar, Jawa Tengah. Perjalanan dimulai dari kosku yang berada di Sukoharjo Timur berbatasan langsung dengan Boyolali.
Bismillah, kubuka hariku dengan bacaan bismillah. Semoga hari ini selalu diberi kemudahan oleh Allah. Aku berencana untuk pergi ke Sukoharjo Selatan hari ini. Namun, aku harus mengubah arah tujuanku karena temanku, Reni tidak mau diajak untuk pergi kesana. Aku memutar otak untuk pergi ke obyek wisata yang menyenangnkan untuk mengisi liburan kami. Kami ingin melupakan sejenak aktivitas yang membosankan dikelas. Ya, kuliah dan kuliah.
Aku tidak terlalu tahu dengan objek wisata di kawasan Solo. Karena aku bukan penduduk asli Solo. Aku hanya pendatang yang menimba ilmu di Surakarta. Dulu aku sering diajak main atau sekedar jalan-jalan dengan temanku, Upik. Upik sering mengajakku ke Karanganyar. Maka dari itu aku memutuskan untuk pergi ke Karanganyar. Karena surga wisata di karesidenan Surakarta adalah di Kab. Karanganyar.
Sampai di Palur. Aku bingung akan membawa Reni pergi kemana. Karena wisata di Karanganyar itu sangat banyak dari paling ujung timur sampai barat perbatasan dengan kab. Magetan, Jawa Timur. Tapi aku sangat penasaran dengan candi-candi yang ada di Karanganyar. Akhirnya aku mengajak Reni ke Candi Sukuh (Sukuh temple).
Candi Sukuh (Sukuh Temple) adalah candi aneh yang pernah aku kunjungi. Patung-patung yang berbentuk aneh menyerupai alat vital laki-laki. Bagaimana mungkin orang terdahulu membuat patung yang seperti itu? Di candi-candi lain yang ada di kawasan Jawa Tengah setauku tidak ada yang bentuk patungnya seperti itu. Tapi ada relief-relief yang sangat menarik. Relief binatang lebih mendominasi. Betapa pandai dan kreatifnya orang-orang terdahulu. Subhanallah.
Kejadian dimana aku dipandang aneh. Ya, aku dipandang aneh. Dimana wanita berniqab sepertiku mengunjungi candi yang banyak relief berbentuk tidak seharusnya. Aku hanya ingin tau tempat bersejarah ini. Bukan untuk mengabadikan moment ketika aku melihat relief aneh itu. Berhijab bukan berarti aku hanya berdiam diri. Aku juga butuh hiburan dan ilmu baru selalin dari kampus. Aku butuh wawasan baru tentang yang ada di depan mataku.
Karena waktu baru menunjukkan pukul 11.39 WIB. Aku memutuskan untuk melanjutkan perjalananku ke Tawangmangu. Dulu aku pernah ke Tawangmangu tapi Reni belum pernah. Jadi aku mengajaknya untuk pergi kesana. Ini adalah trip pertamanya ke Gunung Lawu. Hawa sejuk hampir dingin menyelimuti setiap perjalanan ini. Tidak terpikirkan untuk sekedar membawa jaket. Kita tidak suka ribet dengan barang bawaan. Kita hanya memakai baju biasa di double dengan kaos, itu saja. Semakin ke atas semakin dingin dan semakin merasa cepat lapar. Akhirnya kita mampir di warung soto termurah sepanjang sejarah (menurutku). Soto daging sapi ukuran mini bowl, segelas es teh dan sekeping tempe goreng sudah cukup mengganjal perut kita yang kelaparan.
Saat aku makan, penjual soto itu memandangku aneh. Mungkin dia berfikir bagaimana aku makan makanan berkuah sedangkan niqab menutupi mulut dan hidungku? Ya, aku juga bingung bagaimana aku harus memakan soto ini. Agak sulit tapi aku harus mencoba. Tetap kenyang tapi dengan lebih tertutup.
Perjalanan kita lanjutkan ke Cemoro Sewu. Awalnya Reni sudah minta turun ke kota karena jarak yang menurutnya sudah teralalu jauh karena dia jarang bepergian jauh. Tapi aku selalu meyakinkan dia kalau perjalanan ini akan sia-sia kalau kita putar balik disini. Akhirnya Reni bisa dibujuk dan kita melanjutkan perjalanan. Sejuk dan semakin dingin. Ini sangat menyiksaku. Karena aku tidak bisa berlama-lama di tempat yang dingin. Tapi aku harus membawa dia ke tempat terbaik agar perjalanan ini berkesan untuk kita berdua.
Sampainya di Cemoro Sewu, kita berdua berselfie ria. Tapi ada banyak hal yang membuatku sedikit kecewa datang kesana adalah banyaknya muda-mudi memadu kasih dipinggir jalan dan dilihat khalayak ramai. Astaghfirullah. Entahlah aku hanya tidak sengaja melihatnya. Tapi berkali-kali aku melihat ini. Astaghfirullah. Betapa ruginya mereka akan hal itu. Mungkin mereka tidak merugi pada saat itu. Mereka lupa betapa kejamnya masa yang akan datang dimana mereka tidak dipersatukan dengan orang yang saat ini bersama mereka tapi mereka sudah rusak karena ulah mereka sendiri. Penyesalan datang diakhir dan itu pasti.
Kuberhentikan motorku di spot foto yang menurutku sangat indah. Kubuka helmku, kulepas juga. Segerombolan remaja yang dari penampilannya sangat gaul layaknya  preman melihatku dengan sedikit menggodaku. Aku acuh dan acuh. Sampai ada satu pemuda yang mendekatiku. Dia menanyakan namaku. Tapi aku diam. Aku hanya takut sesuatu akan terjadi.
Aku selalu ingat dengan dia, yang aku cintai. Aku tidak boleh gampang mengenal orang yang asal-usulnya tidak jelas. Tapi ternyata hijabku yang menarik dia untuk berkenalan. Aku tetap enggan berkenalkan. Kata orang, disini ladangnya orang-orang yang kurang kasih sayang orang tua. Mereka nakal sejadi-jadinya. Masyaallah.
Aku memilih pergi meninggalkan tempat itu. Aku lanjutkan menuju Cemoro Kandang. Tempat yang sangat ingin aku kunjungi dengan rasa penasaran yang teramat sangat. Dan lagi aku menemukan pasangan yang berbuat tidak senonoh. Siapa yang harus aku salahkan, sangat merusak pandanganku. Aku berhenti disebuah lapangan yang sangat luas dan terdapat vie puncak gunung Lawu dibelakangnya. Subhanallah. Nikmat mana lagi yang kalian dustakan?
Selalu ada yang memandangiku aneh. Dimana wanita dengan jilbab besarnya, niqabnya, sangat tertutup tapi bisa bepergian tanpa mengubah sedikitpun yang dia pakai. Iya itu aku. Selalu ada yang berusaha untuk mendekat, tapi aku menjauh. Aku takut dengan bayangan orang-orang tentang muda-mudi yang kurang kasih sayang itu.

Hijabku adalah identitasku. Dimana aku mengenakannya bukan untuk dikagumi semua laki-laki. Tapi aku berusaha menjaga kehormatanku. Hijabku bukan menjadi penghalang untukku bepergian jauh. Ini adalah perjalanan mengagungi  nikmat Allah untuk manusia. Semoga aku tetap istiqomah meskipun banyak juga yang menghujatku. Amiinn..

Kamis, 05 Januari 2017

Indahnya Dunia Saat Mengenal Apa Arti Hijab yang Sebenarnya

Assalamuaaikum ukhti..
Perkenalkan namaku Nunik Maslakhah. Aku mencoba menceritakan kisahku tentang perjalanku mencari apa itu hijab yang sesungguhnya.

Aku sudah terlahir dari keluarga muslim yang insyaallah taat kepada seluruh perintah Allah. Ayahku termasuk dalam pegurus masjid di desaku namun ibuku hanya ibu rumah tangga biasa. Dari kecil aku bersekolah di sekolah islam. Mulai dari TK, MI, MTs, MA dan di perguruan tinggi islam. Aku juga mengaji di pesantren sejak usia 5 tahun. Dari kecil aku sudah mendapatkan ilmu agama yang baik mulai dari keluargaku, lingkunganku, sekolahku dan dari pesantren tempat aku mengaji.

Saat usiaku 5 tahu, aku ikut mengaji dengan saudaraku disebuah TPQ di desaku. Kebetulan guru ngajiku adalah seorang pengurus masjid dan beliau juga teman dekat ayahku. Setiap hari aku mengaji mulai pukul 16.00 WIB s/d 20.00 WIB. Pertama kalinya aku belajar membaca iqro' atau mengenal huruf hijaiyah dan cara membaca dengan kharakat yang baik. Aku sangat senang karena dalam waktu yang cukup singkat aku sudah mengusai baca iqro' sampai jilid 4. Menjelang jilid 5 aku agak kesulitan karena sudah seperti ayat-ayat alur'an yang panjang dan rumit. Aku belajar cukup lama untuk membaca jilid 4 sampai jilid 6. Guru mengajiku sangatlah baik. Setiap aku pulang mengaji, beliau selalu mengantarkanku pulang. Karena sekitaran rumahku sangat gelap tidak ada cahaya lampu yang melengkapi. Aku selalu digendong pada saat itu. Ibuku sangat senang saat melihat aku diantarkan pulang oleh guruku.

Suatu ketika aku harus menghafalkan surat-surat pendek. Yang bisa menghafal sampai surat al-lahab dengan baik akan mendapatkan hadiah dari guruku. Aku belajar mengahafal dengan keras saat itu. Aku tidak tau hadiah apa yang akan iberikan oleh gruku jika dapat menghafal dengan lancar. Tapi hadiah itu membuatku semangat dalam menghafal.

Hari ujian mengahafal tela tiba. Aku saat antusias untuk segera menyetorkan hafalanku kepada beliau. "Sudah siap nduk? Yang semangat ya. Semoga mendapat berkah". Tapi yang kupikirkan pada saat itu bukan berkahnya, tapi hadiah yang ada disebelah guruku. Aku mengahafal dengan pelan-pelan dan sangat baik. Aku berharap aku dapat memenangkan hadiah itu.

Betapa senangnya aku saat itu. Aku berhasil mendapatkan hadiah yang beliau janjikan. Aku buka bungkusan hadiah itu. Dan ternyata berisi jilbab. Jilbab? Untuk apa? Aku sudah punya banyak jilbab dan jilbabku lebih baik dari ini. Ah percuma saja aku menghafal dengan rajin jika pada akhirnya aku hanya mendapatkan jilbab jelek ini. "Ah pak gru, jilbabnya jelek. Aku nggak suka pak. Dirumah jolbabku lebih bagus. Coba bapak liat jilbab yang aku pakai sekarang, bagus kan?". Beliau hanya tersenyum simpul kepadaku. "Nduk, jilbabnya memang tidak sebagus milikmu. Tapi, kamu akan lebih cantik jika kamu memakai jilbab ini. Mau jilbabnya sepeti apa itu tidak masalah nduk. Yang penting kamu pakai jilbab. Pasti kamu cantik sekali". Untuk usia 7 tahun, aku belum bisa menelaah apa yang beliau sampaikan. Yang aku tau hanya jilbabnya jelek dan aku tidak menyukainya, itu saja.

Saat MTs, aku mempunyai banyak teman baru yang bukan berasal dari desaku saja. Disana aku sulit memilih teman yang baik untukku. Dulu aku sudah berjlbab meskipun hanya untuk mengaji dan kesekolah saja. Tapi saat MTs aku hanya mengenakan jilbab saat kesekolah saja. Aku sudah tidak pernah mengaji di pesantren lagi. Karena menurut ibuku, aku sudah salah bergaul. Aku sering main dan sering lupa pulang. Aku lebih sering mengikuti tema-teman yang balapan motor, suka menonton acara music keras, sring pulang larut malam dan lain-lain. Ibuku selalu menangis saat melihatku menjadi anak yang hancur saat itu.

Kenakalan itu masih berlajut sampai aku kelas 2 MA. Disana aku tidak lebih hancur tapi sama hancurnya dengan saat MTs dulu. Selalu lupa pulang, lupa meminta ijin dengan orang tua, jarang sholat dan banyak keburukan lainnya.

Tapi saat semester 2 kelas 2 MA aku sudah tidak terlalu nakal lagi. Aku sudah lebih bertanggung jawab karena aku mencoba menyibukkan diri dengan berorganisasi disekolah. Saat itu aku ditanya oleh temanku, " Nik, kamu cantik loh. coba saja setiap hari kamu pakai jilbab setiap kamu keluar rumah. Pasti cantik sekali aku nggak bohong". Kata-kata itu masih terngiang dikepalaku sampai saat ini. Tapi dia hanya mengatakan untuk berjilbab saja bukan berhijab.

Hijab ini kumulai saat aku duduk di bangku kuliah dan masih semester 1. Dimana aku mencintai seseorang dan dia mengajakku untuk mencoba hal baru dalm hidup, yaitu berhijab. Hal yang menurutku sangat aneh. "Coba kamu pakai hijab yang bener. Pasti kamu lebih cantik". Pada saat itu aku hanya menuruti orang yang aku cintai untuk menggunakan jilbab yang lebih layak, yang tidak tembus pandang, memutupi dada juga. Aku coba karena aku terpaksa. Aku selalu bercermin sangat lama saat aku mengunakan hijab. dalam hati aku bertanya, apakah aku pantas menggunakan jilbab sebesar ini tapi pakaianku masih seketat ini? Ah kupikir tidak pantas juga.

Tapi aku coba dan terus mencoba. Dia selalu memberikanku banyak hal tentang anjuran berhijab yang baik dan benar. Aku terus mencoba menuruti apa yang dia mau. Dan pada akhirnya aku mulai terbiasa dengan ini. Yang dulunya aku hanya berjilbab biasa, kini aku sudah merasa lebih baik dari masa laluku. Aku belajar sedikit demi sedikit dengan banyak membaca meme yang diupload akun islami di instagram. Aku tidak terlalu suka membaca artikel atau tulisan yang terlalu banyak dan tulisannya sangat kecil. Maka dari itu aku belajar dengan meme yang mengajak menuju kebaikan.

Ratursan meme telah kubaca. Disitu aku belajar. Bidadari syurga itu pastinya solehah dan berhijab. Aku belajar menjadi perempuan yang lebih baik dari masa laluku. Belajar menaati perintah Allah dengan ikhlas. Aku belajar banyak hal sedikit demi sedikit. Mulai dari cara berpakaian, beribadah dengan baik dan benar, menjauhi hal-hal yang merugikan diri sendiri dan lain sebagainya.

Aku dan dia sama-sama belajar bagaimana menjadi muslim yang baik yang mengikuti sunnah nabi Muhammad SAW dan menjalankan perintah Allah SWT. Berat memang meninggalkan hal-hal yang sebelumnya biasa kita lakukan. Tapi aku bersyukur, teman-temanku menerima dengan penampilan bedaku. Penampilan yang berbeda dari biasanya. Justru mereka mendukungku untuk menjadi perempuan yang lebih baik lagi. Mereka mendoakanku agar hijrahku tetap istiqomah. Aku tidak boleh takut melangkah. Aku harus bisa menjalani kehidupan yang sudah kupilih. Hijab ini adalah cerminan diriku sendiri. Hijabku adalah mahkota yang harus kurawat dan kujaga setiap waktu.

Aku yakin, Allah selalu mengiringi langkah manusia yang menuju kebaikan. Allah selalu memberikan jalan untuk hamba-Nya yang berhijrah kejalan-Nya. Meskipun terkadanag aku dibilang aneh didesaku, aku yakin suatu saat mereka dapat menerima perubahan ini. Karena berhijrah itu artinya siap dijauhi orang-orang sekitar, siap iasingkan dan lainnya.

Tapi aku harus segera menjemput hidayahku. Karena hidayah tidak mungkin datang ketika kita hanya berdiam diri tanpa usaha. Bismillah.. Istiqomahkan aku ya Allah..