Kamis, 05 Januari 2017

Indahnya Dunia Saat Mengenal Apa Arti Hijab yang Sebenarnya

Assalamuaaikum ukhti..
Perkenalkan namaku Nunik Maslakhah. Aku mencoba menceritakan kisahku tentang perjalanku mencari apa itu hijab yang sesungguhnya.

Aku sudah terlahir dari keluarga muslim yang insyaallah taat kepada seluruh perintah Allah. Ayahku termasuk dalam pegurus masjid di desaku namun ibuku hanya ibu rumah tangga biasa. Dari kecil aku bersekolah di sekolah islam. Mulai dari TK, MI, MTs, MA dan di perguruan tinggi islam. Aku juga mengaji di pesantren sejak usia 5 tahun. Dari kecil aku sudah mendapatkan ilmu agama yang baik mulai dari keluargaku, lingkunganku, sekolahku dan dari pesantren tempat aku mengaji.

Saat usiaku 5 tahu, aku ikut mengaji dengan saudaraku disebuah TPQ di desaku. Kebetulan guru ngajiku adalah seorang pengurus masjid dan beliau juga teman dekat ayahku. Setiap hari aku mengaji mulai pukul 16.00 WIB s/d 20.00 WIB. Pertama kalinya aku belajar membaca iqro' atau mengenal huruf hijaiyah dan cara membaca dengan kharakat yang baik. Aku sangat senang karena dalam waktu yang cukup singkat aku sudah mengusai baca iqro' sampai jilid 4. Menjelang jilid 5 aku agak kesulitan karena sudah seperti ayat-ayat alur'an yang panjang dan rumit. Aku belajar cukup lama untuk membaca jilid 4 sampai jilid 6. Guru mengajiku sangatlah baik. Setiap aku pulang mengaji, beliau selalu mengantarkanku pulang. Karena sekitaran rumahku sangat gelap tidak ada cahaya lampu yang melengkapi. Aku selalu digendong pada saat itu. Ibuku sangat senang saat melihat aku diantarkan pulang oleh guruku.

Suatu ketika aku harus menghafalkan surat-surat pendek. Yang bisa menghafal sampai surat al-lahab dengan baik akan mendapatkan hadiah dari guruku. Aku belajar mengahafal dengan keras saat itu. Aku tidak tau hadiah apa yang akan iberikan oleh gruku jika dapat menghafal dengan lancar. Tapi hadiah itu membuatku semangat dalam menghafal.

Hari ujian mengahafal tela tiba. Aku saat antusias untuk segera menyetorkan hafalanku kepada beliau. "Sudah siap nduk? Yang semangat ya. Semoga mendapat berkah". Tapi yang kupikirkan pada saat itu bukan berkahnya, tapi hadiah yang ada disebelah guruku. Aku mengahafal dengan pelan-pelan dan sangat baik. Aku berharap aku dapat memenangkan hadiah itu.

Betapa senangnya aku saat itu. Aku berhasil mendapatkan hadiah yang beliau janjikan. Aku buka bungkusan hadiah itu. Dan ternyata berisi jilbab. Jilbab? Untuk apa? Aku sudah punya banyak jilbab dan jilbabku lebih baik dari ini. Ah percuma saja aku menghafal dengan rajin jika pada akhirnya aku hanya mendapatkan jilbab jelek ini. "Ah pak gru, jilbabnya jelek. Aku nggak suka pak. Dirumah jolbabku lebih bagus. Coba bapak liat jilbab yang aku pakai sekarang, bagus kan?". Beliau hanya tersenyum simpul kepadaku. "Nduk, jilbabnya memang tidak sebagus milikmu. Tapi, kamu akan lebih cantik jika kamu memakai jilbab ini. Mau jilbabnya sepeti apa itu tidak masalah nduk. Yang penting kamu pakai jilbab. Pasti kamu cantik sekali". Untuk usia 7 tahun, aku belum bisa menelaah apa yang beliau sampaikan. Yang aku tau hanya jilbabnya jelek dan aku tidak menyukainya, itu saja.

Saat MTs, aku mempunyai banyak teman baru yang bukan berasal dari desaku saja. Disana aku sulit memilih teman yang baik untukku. Dulu aku sudah berjlbab meskipun hanya untuk mengaji dan kesekolah saja. Tapi saat MTs aku hanya mengenakan jilbab saat kesekolah saja. Aku sudah tidak pernah mengaji di pesantren lagi. Karena menurut ibuku, aku sudah salah bergaul. Aku sering main dan sering lupa pulang. Aku lebih sering mengikuti tema-teman yang balapan motor, suka menonton acara music keras, sring pulang larut malam dan lain-lain. Ibuku selalu menangis saat melihatku menjadi anak yang hancur saat itu.

Kenakalan itu masih berlajut sampai aku kelas 2 MA. Disana aku tidak lebih hancur tapi sama hancurnya dengan saat MTs dulu. Selalu lupa pulang, lupa meminta ijin dengan orang tua, jarang sholat dan banyak keburukan lainnya.

Tapi saat semester 2 kelas 2 MA aku sudah tidak terlalu nakal lagi. Aku sudah lebih bertanggung jawab karena aku mencoba menyibukkan diri dengan berorganisasi disekolah. Saat itu aku ditanya oleh temanku, " Nik, kamu cantik loh. coba saja setiap hari kamu pakai jilbab setiap kamu keluar rumah. Pasti cantik sekali aku nggak bohong". Kata-kata itu masih terngiang dikepalaku sampai saat ini. Tapi dia hanya mengatakan untuk berjilbab saja bukan berhijab.

Hijab ini kumulai saat aku duduk di bangku kuliah dan masih semester 1. Dimana aku mencintai seseorang dan dia mengajakku untuk mencoba hal baru dalm hidup, yaitu berhijab. Hal yang menurutku sangat aneh. "Coba kamu pakai hijab yang bener. Pasti kamu lebih cantik". Pada saat itu aku hanya menuruti orang yang aku cintai untuk menggunakan jilbab yang lebih layak, yang tidak tembus pandang, memutupi dada juga. Aku coba karena aku terpaksa. Aku selalu bercermin sangat lama saat aku mengunakan hijab. dalam hati aku bertanya, apakah aku pantas menggunakan jilbab sebesar ini tapi pakaianku masih seketat ini? Ah kupikir tidak pantas juga.

Tapi aku coba dan terus mencoba. Dia selalu memberikanku banyak hal tentang anjuran berhijab yang baik dan benar. Aku terus mencoba menuruti apa yang dia mau. Dan pada akhirnya aku mulai terbiasa dengan ini. Yang dulunya aku hanya berjilbab biasa, kini aku sudah merasa lebih baik dari masa laluku. Aku belajar sedikit demi sedikit dengan banyak membaca meme yang diupload akun islami di instagram. Aku tidak terlalu suka membaca artikel atau tulisan yang terlalu banyak dan tulisannya sangat kecil. Maka dari itu aku belajar dengan meme yang mengajak menuju kebaikan.

Ratursan meme telah kubaca. Disitu aku belajar. Bidadari syurga itu pastinya solehah dan berhijab. Aku belajar menjadi perempuan yang lebih baik dari masa laluku. Belajar menaati perintah Allah dengan ikhlas. Aku belajar banyak hal sedikit demi sedikit. Mulai dari cara berpakaian, beribadah dengan baik dan benar, menjauhi hal-hal yang merugikan diri sendiri dan lain sebagainya.

Aku dan dia sama-sama belajar bagaimana menjadi muslim yang baik yang mengikuti sunnah nabi Muhammad SAW dan menjalankan perintah Allah SWT. Berat memang meninggalkan hal-hal yang sebelumnya biasa kita lakukan. Tapi aku bersyukur, teman-temanku menerima dengan penampilan bedaku. Penampilan yang berbeda dari biasanya. Justru mereka mendukungku untuk menjadi perempuan yang lebih baik lagi. Mereka mendoakanku agar hijrahku tetap istiqomah. Aku tidak boleh takut melangkah. Aku harus bisa menjalani kehidupan yang sudah kupilih. Hijab ini adalah cerminan diriku sendiri. Hijabku adalah mahkota yang harus kurawat dan kujaga setiap waktu.

Aku yakin, Allah selalu mengiringi langkah manusia yang menuju kebaikan. Allah selalu memberikan jalan untuk hamba-Nya yang berhijrah kejalan-Nya. Meskipun terkadanag aku dibilang aneh didesaku, aku yakin suatu saat mereka dapat menerima perubahan ini. Karena berhijrah itu artinya siap dijauhi orang-orang sekitar, siap iasingkan dan lainnya.

Tapi aku harus segera menjemput hidayahku. Karena hidayah tidak mungkin datang ketika kita hanya berdiam diri tanpa usaha. Bismillah.. Istiqomahkan aku ya Allah..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar