Assalamualaikum
ukhti..
Hari
ini aku akan bercerita tentang perjalananku ke Cemoro Kandang, kab.
Karanganyar, Jawa Tengah. Perjalanan dimulai dari kosku yang berada di
Sukoharjo Timur berbatasan langsung dengan Boyolali.
Bismillah,
kubuka hariku dengan bacaan bismillah. Semoga hari ini selalu diberi kemudahan
oleh Allah. Aku berencana untuk pergi ke Sukoharjo Selatan hari ini. Namun, aku
harus mengubah arah tujuanku karena temanku, Reni tidak mau diajak untuk pergi
kesana. Aku memutar otak untuk pergi ke obyek wisata yang menyenangnkan untuk
mengisi liburan kami. Kami ingin melupakan sejenak aktivitas yang membosankan
dikelas. Ya, kuliah dan kuliah.
Aku
tidak terlalu tahu dengan objek wisata di kawasan Solo. Karena aku bukan
penduduk asli Solo. Aku hanya pendatang yang menimba ilmu di Surakarta. Dulu aku
sering diajak main atau sekedar jalan-jalan dengan temanku, Upik. Upik sering
mengajakku ke Karanganyar. Maka dari itu aku memutuskan untuk pergi ke
Karanganyar. Karena surga wisata di karesidenan Surakarta adalah di Kab.
Karanganyar.
Sampai
di Palur. Aku bingung akan membawa Reni pergi kemana. Karena wisata di
Karanganyar itu sangat banyak dari paling ujung timur sampai barat perbatasan
dengan kab. Magetan, Jawa Timur. Tapi aku sangat penasaran dengan candi-candi
yang ada di Karanganyar. Akhirnya aku mengajak Reni ke Candi Sukuh (Sukuh
temple).
Candi
Sukuh (Sukuh Temple) adalah candi aneh yang pernah aku kunjungi. Patung-patung
yang berbentuk aneh menyerupai alat vital laki-laki. Bagaimana mungkin orang
terdahulu membuat patung yang seperti itu? Di candi-candi lain yang ada di
kawasan Jawa Tengah setauku tidak ada yang bentuk patungnya seperti itu. Tapi ada
relief-relief yang sangat menarik. Relief binatang lebih mendominasi. Betapa pandai
dan kreatifnya orang-orang terdahulu. Subhanallah.
Kejadian
dimana aku dipandang aneh. Ya, aku dipandang aneh. Dimana wanita berniqab
sepertiku mengunjungi candi yang banyak relief berbentuk tidak seharusnya. Aku hanya
ingin tau tempat bersejarah ini. Bukan untuk mengabadikan moment ketika aku
melihat relief aneh itu. Berhijab bukan berarti aku hanya berdiam diri. Aku juga
butuh hiburan dan ilmu baru selalin dari kampus. Aku butuh wawasan baru tentang
yang ada di depan mataku.
Karena
waktu baru menunjukkan pukul 11.39 WIB. Aku memutuskan untuk melanjutkan
perjalananku ke Tawangmangu. Dulu aku pernah ke Tawangmangu tapi Reni belum
pernah. Jadi aku mengajaknya untuk pergi kesana. Ini adalah trip pertamanya ke
Gunung Lawu. Hawa sejuk hampir dingin menyelimuti setiap perjalanan ini. Tidak terpikirkan
untuk sekedar membawa jaket. Kita tidak suka ribet dengan barang bawaan. Kita hanya
memakai baju biasa di double dengan kaos, itu saja. Semakin ke atas semakin
dingin dan semakin merasa cepat lapar. Akhirnya kita mampir di warung soto
termurah sepanjang sejarah (menurutku). Soto daging sapi ukuran mini bowl,
segelas es teh dan sekeping tempe goreng sudah cukup mengganjal perut kita yang
kelaparan.
Saat
aku makan, penjual soto itu memandangku aneh. Mungkin dia berfikir bagaimana
aku makan makanan berkuah sedangkan niqab menutupi mulut dan hidungku? Ya, aku
juga bingung bagaimana aku harus memakan soto ini. Agak sulit tapi aku harus
mencoba. Tetap kenyang tapi dengan lebih tertutup.
Perjalanan
kita lanjutkan ke Cemoro Sewu. Awalnya Reni sudah minta turun ke kota karena jarak
yang menurutnya sudah teralalu jauh karena dia jarang bepergian jauh. Tapi aku
selalu meyakinkan dia kalau perjalanan ini akan sia-sia kalau kita putar balik
disini. Akhirnya Reni bisa dibujuk dan kita melanjutkan perjalanan. Sejuk dan
semakin dingin. Ini sangat menyiksaku. Karena aku tidak bisa berlama-lama di
tempat yang dingin. Tapi aku harus membawa dia ke tempat terbaik agar
perjalanan ini berkesan untuk kita berdua.
Sampainya
di Cemoro Sewu, kita berdua berselfie ria. Tapi ada banyak hal yang membuatku
sedikit kecewa datang kesana adalah banyaknya muda-mudi memadu kasih dipinggir
jalan dan dilihat khalayak ramai. Astaghfirullah. Entahlah aku hanya tidak
sengaja melihatnya. Tapi berkali-kali aku melihat ini. Astaghfirullah. Betapa ruginya
mereka akan hal itu. Mungkin mereka tidak merugi pada saat itu. Mereka lupa
betapa kejamnya masa yang akan datang dimana mereka tidak dipersatukan dengan
orang yang saat ini bersama mereka tapi mereka sudah rusak karena ulah mereka
sendiri. Penyesalan datang diakhir dan itu pasti.
Kuberhentikan
motorku di spot foto yang menurutku sangat indah. Kubuka helmku, kulepas juga. Segerombolan
remaja yang dari penampilannya sangat gaul layaknya preman melihatku dengan sedikit menggodaku. Aku
acuh dan acuh. Sampai ada satu pemuda yang mendekatiku. Dia menanyakan namaku. Tapi
aku diam. Aku hanya takut sesuatu akan terjadi.
Aku
selalu ingat dengan dia, yang aku cintai. Aku tidak boleh gampang mengenal
orang yang asal-usulnya tidak jelas. Tapi ternyata hijabku yang menarik dia
untuk berkenalan. Aku tetap enggan berkenalkan. Kata orang, disini ladangnya
orang-orang yang kurang kasih sayang orang tua. Mereka nakal sejadi-jadinya. Masyaallah.
Aku
memilih pergi meninggalkan tempat itu. Aku lanjutkan menuju Cemoro Kandang. Tempat
yang sangat ingin aku kunjungi dengan rasa penasaran yang teramat sangat. Dan lagi
aku menemukan pasangan yang berbuat tidak senonoh. Siapa yang harus aku
salahkan, sangat merusak pandanganku. Aku berhenti disebuah lapangan yang
sangat luas dan terdapat vie puncak gunung Lawu dibelakangnya. Subhanallah. Nikmat
mana lagi yang kalian dustakan?
Selalu
ada yang memandangiku aneh. Dimana wanita dengan jilbab besarnya, niqabnya,
sangat tertutup tapi bisa bepergian tanpa mengubah sedikitpun yang dia pakai. Iya
itu aku. Selalu ada yang berusaha untuk mendekat, tapi aku menjauh. Aku takut
dengan bayangan orang-orang tentang muda-mudi yang kurang kasih sayang itu.
Hijabku
adalah identitasku. Dimana aku mengenakannya bukan untuk dikagumi semua
laki-laki. Tapi aku berusaha menjaga kehormatanku. Hijabku bukan menjadi
penghalang untukku bepergian jauh. Ini adalah perjalanan mengagungi nikmat Allah untuk manusia. Semoga aku tetap
istiqomah meskipun banyak juga yang menghujatku. Amiinn..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar