Minggu, 08 Januari 2017

Berlibur tetap berhijab. Hijab adalah identitas diri.

Assalamualaikum ukhti..
Hari ini aku akan bercerita tentang perjalananku ke Cemoro Kandang, kab. Karanganyar, Jawa Tengah. Perjalanan dimulai dari kosku yang berada di Sukoharjo Timur berbatasan langsung dengan Boyolali.
Bismillah, kubuka hariku dengan bacaan bismillah. Semoga hari ini selalu diberi kemudahan oleh Allah. Aku berencana untuk pergi ke Sukoharjo Selatan hari ini. Namun, aku harus mengubah arah tujuanku karena temanku, Reni tidak mau diajak untuk pergi kesana. Aku memutar otak untuk pergi ke obyek wisata yang menyenangnkan untuk mengisi liburan kami. Kami ingin melupakan sejenak aktivitas yang membosankan dikelas. Ya, kuliah dan kuliah.
Aku tidak terlalu tahu dengan objek wisata di kawasan Solo. Karena aku bukan penduduk asli Solo. Aku hanya pendatang yang menimba ilmu di Surakarta. Dulu aku sering diajak main atau sekedar jalan-jalan dengan temanku, Upik. Upik sering mengajakku ke Karanganyar. Maka dari itu aku memutuskan untuk pergi ke Karanganyar. Karena surga wisata di karesidenan Surakarta adalah di Kab. Karanganyar.
Sampai di Palur. Aku bingung akan membawa Reni pergi kemana. Karena wisata di Karanganyar itu sangat banyak dari paling ujung timur sampai barat perbatasan dengan kab. Magetan, Jawa Timur. Tapi aku sangat penasaran dengan candi-candi yang ada di Karanganyar. Akhirnya aku mengajak Reni ke Candi Sukuh (Sukuh temple).
Candi Sukuh (Sukuh Temple) adalah candi aneh yang pernah aku kunjungi. Patung-patung yang berbentuk aneh menyerupai alat vital laki-laki. Bagaimana mungkin orang terdahulu membuat patung yang seperti itu? Di candi-candi lain yang ada di kawasan Jawa Tengah setauku tidak ada yang bentuk patungnya seperti itu. Tapi ada relief-relief yang sangat menarik. Relief binatang lebih mendominasi. Betapa pandai dan kreatifnya orang-orang terdahulu. Subhanallah.
Kejadian dimana aku dipandang aneh. Ya, aku dipandang aneh. Dimana wanita berniqab sepertiku mengunjungi candi yang banyak relief berbentuk tidak seharusnya. Aku hanya ingin tau tempat bersejarah ini. Bukan untuk mengabadikan moment ketika aku melihat relief aneh itu. Berhijab bukan berarti aku hanya berdiam diri. Aku juga butuh hiburan dan ilmu baru selalin dari kampus. Aku butuh wawasan baru tentang yang ada di depan mataku.
Karena waktu baru menunjukkan pukul 11.39 WIB. Aku memutuskan untuk melanjutkan perjalananku ke Tawangmangu. Dulu aku pernah ke Tawangmangu tapi Reni belum pernah. Jadi aku mengajaknya untuk pergi kesana. Ini adalah trip pertamanya ke Gunung Lawu. Hawa sejuk hampir dingin menyelimuti setiap perjalanan ini. Tidak terpikirkan untuk sekedar membawa jaket. Kita tidak suka ribet dengan barang bawaan. Kita hanya memakai baju biasa di double dengan kaos, itu saja. Semakin ke atas semakin dingin dan semakin merasa cepat lapar. Akhirnya kita mampir di warung soto termurah sepanjang sejarah (menurutku). Soto daging sapi ukuran mini bowl, segelas es teh dan sekeping tempe goreng sudah cukup mengganjal perut kita yang kelaparan.
Saat aku makan, penjual soto itu memandangku aneh. Mungkin dia berfikir bagaimana aku makan makanan berkuah sedangkan niqab menutupi mulut dan hidungku? Ya, aku juga bingung bagaimana aku harus memakan soto ini. Agak sulit tapi aku harus mencoba. Tetap kenyang tapi dengan lebih tertutup.
Perjalanan kita lanjutkan ke Cemoro Sewu. Awalnya Reni sudah minta turun ke kota karena jarak yang menurutnya sudah teralalu jauh karena dia jarang bepergian jauh. Tapi aku selalu meyakinkan dia kalau perjalanan ini akan sia-sia kalau kita putar balik disini. Akhirnya Reni bisa dibujuk dan kita melanjutkan perjalanan. Sejuk dan semakin dingin. Ini sangat menyiksaku. Karena aku tidak bisa berlama-lama di tempat yang dingin. Tapi aku harus membawa dia ke tempat terbaik agar perjalanan ini berkesan untuk kita berdua.
Sampainya di Cemoro Sewu, kita berdua berselfie ria. Tapi ada banyak hal yang membuatku sedikit kecewa datang kesana adalah banyaknya muda-mudi memadu kasih dipinggir jalan dan dilihat khalayak ramai. Astaghfirullah. Entahlah aku hanya tidak sengaja melihatnya. Tapi berkali-kali aku melihat ini. Astaghfirullah. Betapa ruginya mereka akan hal itu. Mungkin mereka tidak merugi pada saat itu. Mereka lupa betapa kejamnya masa yang akan datang dimana mereka tidak dipersatukan dengan orang yang saat ini bersama mereka tapi mereka sudah rusak karena ulah mereka sendiri. Penyesalan datang diakhir dan itu pasti.
Kuberhentikan motorku di spot foto yang menurutku sangat indah. Kubuka helmku, kulepas juga. Segerombolan remaja yang dari penampilannya sangat gaul layaknya  preman melihatku dengan sedikit menggodaku. Aku acuh dan acuh. Sampai ada satu pemuda yang mendekatiku. Dia menanyakan namaku. Tapi aku diam. Aku hanya takut sesuatu akan terjadi.
Aku selalu ingat dengan dia, yang aku cintai. Aku tidak boleh gampang mengenal orang yang asal-usulnya tidak jelas. Tapi ternyata hijabku yang menarik dia untuk berkenalan. Aku tetap enggan berkenalkan. Kata orang, disini ladangnya orang-orang yang kurang kasih sayang orang tua. Mereka nakal sejadi-jadinya. Masyaallah.
Aku memilih pergi meninggalkan tempat itu. Aku lanjutkan menuju Cemoro Kandang. Tempat yang sangat ingin aku kunjungi dengan rasa penasaran yang teramat sangat. Dan lagi aku menemukan pasangan yang berbuat tidak senonoh. Siapa yang harus aku salahkan, sangat merusak pandanganku. Aku berhenti disebuah lapangan yang sangat luas dan terdapat vie puncak gunung Lawu dibelakangnya. Subhanallah. Nikmat mana lagi yang kalian dustakan?
Selalu ada yang memandangiku aneh. Dimana wanita dengan jilbab besarnya, niqabnya, sangat tertutup tapi bisa bepergian tanpa mengubah sedikitpun yang dia pakai. Iya itu aku. Selalu ada yang berusaha untuk mendekat, tapi aku menjauh. Aku takut dengan bayangan orang-orang tentang muda-mudi yang kurang kasih sayang itu.

Hijabku adalah identitasku. Dimana aku mengenakannya bukan untuk dikagumi semua laki-laki. Tapi aku berusaha menjaga kehormatanku. Hijabku bukan menjadi penghalang untukku bepergian jauh. Ini adalah perjalanan mengagungi  nikmat Allah untuk manusia. Semoga aku tetap istiqomah meskipun banyak juga yang menghujatku. Amiinn..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar